Tampilkan postingan dengan label dads learn parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dads learn parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2013

Ayah hebat part 3 Terkadang kita lepas kendali tapi..

Hilangkan Rasa Bersalah


Masih merasa bersalah gara-gara berteriak pada anak minggu lalu? Setiap ayah kadangkala merasa bersalah, tapi ada alasan untuk mengurangi beban yang satu ini.

“Terobsesi dengan kesalahan masa lalu—atau khawatir kalau-kalau Anda akan membuat kesalahan—hanya akan membuat Anda merasa cemas, tegang, serta tidak bahagia,” kata Mark Leary, Ph.D., penulis The Curse of the Self (Oxford University Press). Untuk melepaskannya:

Lihat diri Anda melalui kacamata anak. Ia tak akan peduli apakah Anda membeli atau memanggang sendiri cupcake untuk pesta di kelas. Baginya, kehadiran Anda untuk dirinya jauh lebih berarti.

Hilangkan rasa bersalah. Apakah anak terjatuh dari ayunan di taman bermain ketika Anda sedang mengawasinya? Terus menerus menyiksa diri karena merasa bersalah tidak akan mengubah keadaan. Ia betul-betul butuh perhatian penuh Anda sekarang ini.

Jangan melihat (terlalu jauh) ke depan. Ya, anak Anda bisa saja homesick alias kangen rumah ketika menginap di rumah orang lain. Lalu? Jika memang ia begitu, cepat-cepat jemput deh! Tidak ada gunanya kurang tidur pada saat seperti ini.

Ayah Hebat Part2 luangkan waktu berkualitas setiap hari

Waktu Berkualitas Bersama Anak


Sebagai mama bekerja, berapa banyak waktu yang Anda miliki bersama papa dan anak dalam satu dari? 1 jam, 2 jam, atau lebih? Berapa pun waktu yang Anda punya, sisipkanlah kualitas di dalamnya.

Maksudnya, isilah waktu berkumpul bersama keluarga ini dengan berbagai kegiatan yang mendekatkan antar anggota keluarga, misal mengajak anak membuat kue di dapur, melakukan permainan yang membutuhkan interaksi, atau sekadar mengobrol.

Punya waktu bersama selama berjam-jam namun tak melakukan apa-apa, menunjukkan tak adanya kualitas kebersamaan di dalam keluarga. Menurut Anna Surti Ariani, Psi, psikolog keluarga, hal ini merupakan tanda-tanda hadirnya budaya bisu di dalam keluarga. Bersama, namun minim interaksi. Anda tentu tak ingin anak tumbuh dalam budaya yang bisu, kan?

Tak ada patokan berapa lama waktu yang Anda butuhkan agar bisa menciptakan momen berkualitas bersama keluarga. Yang pasti, menurut Anna, berkomitmenlah untuk melakukannya setiap hari. Hal ini sejalan dengan pendapat seorang profesor psikologi dari Sam Houston State University, Rowland S. Miller, yang di dalam bukunya menegaskan bahwa komunikasi yang dipupuk oleh keluarga secara rutin akan menghasilkan kedekatan emosional yang semakin dalam.

Percuma Anda punya waktu bersama 1 jam tapi hanya diisi dengan menonton televisi dan hampir tak ada interaksi. Lima belas menit pun sudah cukup, kok, kalau Anda menjalankannya secara berkualitas dan dilakukan setiap hari. Nah, berikut beberapa ide ’15 menit’ yang mungkin bisa Anda contek untuk dilakukan bersama papa dan anak setiap hari:

• Mengantar anak sekolah setiap pagi. Saling bercerita di perjalanan, bisa menjadi proses yang saling mendekatkan.

• Berkumpul bersama di kamar mama sebelum tidur. Banyak hal bisa dilakukan di sini, mulai dari sekadar bercerita hingga bercanda.

• Makan malam bersama di meja makan, dilanjutkan dengan menikmati dessert atau minum teh bersama. Tak ada yang lebih menyenangkan selain ngobrol ditemani aneka kudapan dan minuman, bukan?

Rabu, 07 Agustus 2013

Belajar Menjadi Ayah part1


Selamat datang di blok kami, Menjadi ayah bukan lah suatu hal yang mudah, terutama bila kita benar benar berkeinginan menjadikan diri kita menjadi ayah yang dapat mengerti, mendalami, menyelami hati dan keinginan putra putri kita tercinta. Menjadi ayah yang meluangkan waktunya, menjadikan waktu yang berkualitas dengan mencoba memahami dan mencoba mengikuti tumbuh kembang putra putri kita 100%, walaupun kita juga diwaktu bersamaan mencintai istri kita 100%, dan dengan pekerjaan kita 100%.

Syukurlah kepada alloh, yang memberikan kita hati yang tiada terbatas untuk mencitai tiap tiap kesenangan kita, hobi kita dan orang orang yang kita cintai masing masing 100%.

Kita harus tahu apa dan kapan buah hati kita membutuhkan perhatian kita, disaat mereka sedih, disaat mereka terluka, di saat mereka lelah, disaat mereka membutuhkan teman untuk bermain dan sedikit waktu kita sebagai seorang figur ayah.

Tantrum merupakan fase ketika anak Anda mengalami kemarahan luar biasa dengan karakteristik frustasi, dilanjutkan dengan menangis, berteriak, dan pergerakan badan yang berlebihan, termasuk melempar barang, menjatuhkan diri ke lantai, dan lain-lain.

“Jika anak sering tantrum, jangan dibiarkan. Bisa jadi anak jadi stres,” ujarEdward R. Christophersen, Ph. D., psikolog di Children’s Mercy Hospitals and clinics, di Kansas City, MO.

Lakukan tindakan ini, saat anak tantrum:

- Jangan memarahi, karena justru akan membuat dia mengulangi lagi perbuatan itu. Tapi kalau Anda diam saja, ia tidak akan berubah. Coba, duduk di samping anak, katakan padanya untuk mengambil napas dalam-dalam. Jelaskan padanya bahwa perilakunya, seperti melempar barang atau membanting tubuhnya di lantai, adalah perbuatan tidak baik.

- Sampaikan harapan Anda secara jelas, termasuk apa yang bisa ditolerir dan apa yang tidak. “Mama senang melihatmu asyik bermain, tapi kamu lebih manis kalau tidak berteriak-teriak. Cobalah memperdengarkan suaramu yang lembut pada Mama.”

- “Tantrum merupakan perbuatan saat anak tidak dapat mengontrol atau tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, bukan fakta yang harus diterima ketika anak tidak mendapat yang ia inginkan,” kata Christophersen. “Abaikan anak Anda dan ketika dia sudah tenang, ulangi interaksi Anda secara normal seperti tidak ada yang terjadi.